Pengertian Majas Pertentangan, Jenis serta Contoh dan Cirinya

Siapa yang tidak suka dengan keindahan bahasa? Bahasa adalah alat komunikasi yang luar biasa fleksibel dan penuh warna. Salah satu cara untuk membuat bahasa lebih menarik dan penuh makna adalah dengan menggunakan majas.

Di antara berbagai jenis majas, majas pertentangan adalah salah satu yang paling sering digunakan dalam sastra dan komunikasi sehari-hari. Yuk, kita pelajari lebih dalam tentang pengertian, jenis-jenis, contoh, dan ciri-ciri majas pertentangan ini!

Apa itu Majas Pertentangan?

Majas pertentangan adalah gaya bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan dua hal yang bertentangan satu sama lain. Penggunaan majas ini bertujuan untuk menekankan makna, memberikan efek dramatis, atau menunjukkan suatu kontras yang tajam.

Dalam sastra, majas pertentangan sering digunakan untuk menciptakan keindahan dan kedalaman makna.

Ciri-Ciri Majas Pertentangan

Penggunaan Kontradiksi

Majas pertentangan selalu melibatkan kontradiksi atau pertentangan antara dua konsep atau ide.

Pemanfaatan Kontras

Gaya bahasa ini memanfaatkan kontras untuk memperkuat pesan yang ingin disampaikan.

Munculnya Paradoks

Sering kali, majas pertentangan menghasilkan paradoks yang mengejutkan pembaca dan membuat mereka berpikir lebih dalam.

Penguatan Melalui Pertentangan

Dengan menonjolkan pertentangan, pesan yang ingin disampaikan menjadi lebih kuat dan jelas.

Jenis-Jenis Majas Pertentangan

1. Majas Paradoks

Majas paradoks adalah gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang tampaknya bertentangan atau tidak masuk akal, namun ketika dianalisis lebih dalam, ternyata mengandung kebenaran. Majas ini sering digunakan untuk menciptakan efek dramatis dan mengejutkan, karena mengajak pembaca atau pendengar berpikir dua kali tentang makna yang disampaikan.

Contoh majas paradoks bisa berupa ungkapan seperti “Diam itu berbicara” atau “Kepedihan yang manis”. Pernyataan-pernyataan ini terlihat kontradiktif di permukaan, namun sebenarnya memiliki makna yang lebih mendalam dan menyiratkan kebenaran tertentu.

Majas paradoks sering digunakan dalam karya sastra, terutama puisi dan prosa, untuk memperkaya teks dan menambah kompleksitas makna. Penggunaan paradoks juga bisa menggugah perasaan dan emosi pembaca, karena kontras yang tajam antara dua gagasan yang disajikan.

Selain itu, paradoks bisa menjadi alat yang efektif untuk mengeksplorasi tema-tema yang rumit dan ambigu, seperti cinta, kematian, dan eksistensi manusia.

Contoh Majas Paradoks

  1. Diam itu berbicara.
  2. Kekayaan membawa kemiskinan.
  3. Kejauhan mendekatkan hati.
  4. Kepedihan yang manis.
  5. Perang demi kedamaian.
  6. Cinta yang membenci.
  7. Kebahagiaan dalam kesedihan.
  8. Kemenangan dalam kekalahan.
  9. Ketidakpastian yang pasti.
  10. Ketidaktahuan yang berpengetahuan.
  11. Ketidakmungkinan yang nyata.
  12. Kesunyian yang riuh.
  13. Kelemahan yang kuat.
  14. Kehilangan yang menemukan.
  15. Kegagalan yang sukses.

Ciri-Ciri Majas Paradoks

  1. Kontradiksi yang Logis: Mengandung kontradiksi yang sebenarnya mengandung kebenaran.
  2. Penuh Makna: Mengandung makna yang dalam dan sering memerlukan pemikiran lebih lanjut untuk dipahami.
  3. Mengagetkan: Sering kali mengejutkan pembaca dengan kontradiksi yang tidak terduga.

2. Majas Hiperbola

Majas hiperbola adalah gaya bahasa yang menggunakan pernyataan yang berlebihan atau melebih-lebihkan untuk menekankan suatu poin atau menciptakan efek dramatis. Hiperbola sering digunakan dalam sastra untuk mengekspresikan emosi yang kuat atau situasi yang ekstrem.

Contoh majas hiperbola termasuk ungkapan seperti “Aku menunggu seabad lamanya” atau “Tangisannya seperti banjir”. Pernyataan-pernyataan ini sangat dilebih-lebihkan dan tidak dimaksudkan untuk diambil secara harfiah, melainkan untuk menekankan intensitas perasaan atau situasi.

Hiperbola adalah alat retorika yang sangat efektif dalam komunikasi, karena dapat menarik perhatian dan meninggalkan kesan yang mendalam pada pendengar atau pembaca. Dalam konteks sehari-hari, hiperbola sering digunakan untuk bercanda atau membuat cerita lebih menarik.

Namun, dalam karya sastra, hiperbola dapat digunakan untuk menggambarkan pengalaman manusia yang ekstrem, seperti penderitaan, kebahagiaan, atau keputusasaan.

Contoh Majas Hiperbola

  1. Aku menunggu seabad lamanya.
  2. Hujan deras seperti badai.
  3. Tangisannya seperti banjir.
  4. Dia berlari secepat angin.
  5. Kekuatan seperti Hercules.
  6. Seribu bintang di matanya.
  7. Dunia berhenti berputar tanpamu.
  8. Suaranya mengguncang dunia.
  9. Lapar seperti serigala.
  10. Tidurnya seharian penuh.
  11. Tertawanya menggema sepanjang malam.
  12. Kerja keras tanpa henti.
  13. Tangannya sekuat baja.
  14. Senyum yang menerangi ruangan.
  15. Dia memiliki jutaan ide.

Ciri-Ciri Majas Hiperbola

  1. Pernyataan Berlebihan: Menggunakan pernyataan yang sangat berlebihan atau tidak realistis.
  2. Dramatis: Menciptakan efek dramatis atau emosional yang kuat.
  3. Menghibur: Sering kali digunakan untuk menghibur atau menarik perhatian.

3. Majas Litotes

Majas litotes adalah gaya bahasa yang menyatakan sesuatu dengan cara merendahkan diri atau menggunakan kata-kata yang lebih lemah daripada kenyataannya. Litotes sering digunakan untuk menunjukkan kerendahan hati atau menghindari kesan sombong.

Contoh majas litotes meliputi ungkapan seperti “Ini hanya makanan sederhana” atau “Saya hanya orang biasa”. Pernyataan-pernyataan ini secara sengaja merendahkan kenyataan yang sebenarnya lebih besar atau lebih penting.

Litotes bisa menjadi cara yang sopan dan diplomatis untuk menyampaikan sesuatu tanpa terdengar berlebihan atau sombong. Dalam karya sastra, litotes sering digunakan untuk menciptakan efek ironi atau untuk menggarisbawahi kontras antara kenyataan dan pernyataan yang dibuat.

Selain itu, litotes dapat digunakan untuk mengeksplorasi tema-tema kerendahan hati, kesederhanaan, dan pengakuan akan keterbatasan manusia.

Contoh Majas Litotes

  1. Ini hanya makanan sederhana.
  2. Saya hanya orang biasa.
  3. Rumah ini kecil saja.
  4. Dia hanya sedikit pintar.
  5. Pekerjaan ini tidak terlalu sulit.
  6. Kami hanya orang desa.
  7. Ini hanya tugas kecil.
  8. Kata-kata ini hanya ungkapan biasa.
  9. Saya hanya beruntung.
  10. Ini hanya kebetulan.
  11. Dia hanya punya sedikit uang.
  12. Perjalanannya hanya sebentar.
  13. Kami hanya bersenang-senang.
  14. Ini hanya masalah kecil.
  15. Dia hanya sedikit terluka.

Ciri-Ciri Majas Litotes

  1. Merendahkan Diri: Menggunakan kata-kata yang merendahkan atau melemahkan kenyataan.
  2. Sederhana: Pernyataan yang dibuat terdengar lebih sederhana daripada kenyataannya.
  3. Rendah Hati: Sering digunakan untuk menunjukkan kerendahan hati atau kesederhanaan.

4. Majas Antitesis

Majas antitesis adalah gaya bahasa yang menggabungkan dua gagasan yang bertentangan dalam satu kalimat untuk menciptakan kontras yang jelas. Antitesis sering digunakan untuk menyoroti perbedaan antara dua hal yang berlawanan dan untuk menekankan poin tertentu.

Contoh majas antitesis termasuk ungkapan seperti “Manis dan pahitnya kehidupan” atau “Kaya dan miskin bersatu”. Dengan menyandingkan dua gagasan yang bertentangan, antitesis menciptakan efek yang kuat dan membuat pesan lebih menonjol.

Antitesis adalah alat retorika yang sangat efektif dalam komunikasi, karena dapat memperjelas dan menegaskan perbedaan antara dua hal. Dalam karya sastra, antitesis sering digunakan untuk mengeksplorasi tema-tema dualitas dan kontradiksi, seperti kehidupan dan kematian, cinta dan benci, atau terang dan gelap.

Penggunaan antitesis dapat memperkaya teks dengan menambahkan dimensi tambahan pada makna dan memberikan kedalaman pada narasi.

Contoh Majas Antitesis

  1. Manis dan pahitnya kehidupan.
  2. Kaya dan miskin bersatu.
  3. Suka dan duka bersama.
  4. Tua dan muda saling mengerti.
  5. Hitam dan putih beriringan.
  6. Kuat dan lemah bergantian.
  7. Hidup dan mati berdampingan.
  8. Bahagia dan sedih silih berganti.
  9. Cinta dan benci satu rasa.
  10. Cerah dan gelap menyatu.
  11. Besar dan kecil berpasangan.
  12. Cepat dan lambat berjalan.
  13. Dingin dan hangat menyatu.
  14. Senang dan sedih serentak.
  15. Tenang dan gelisah bersama.

Ciri-Ciri Majas Antitesis

  1. Kontras Jelas: Menggabungkan dua gagasan yang bertentangan secara jelas.
  2. Membuat Perbandingan: Menggunakan perbandingan untuk menekankan perbedaan antara dua gagasan.
  3. Efek Dramatis: Menciptakan efek dramatis dengan menunjukkan dua sisi yang berlawanan.

Penutup

Itulah pembahasan lengkap tentang majas pertentangan, jenis-jenisnya, contoh-contohnya, dan ciri-cirinya. Dengan memahami majas pertentangan, kita bisa lebih mengapresiasi keindahan bahasa dan memperkaya cara kita berkomunikasi.

Majas pertentangan tidak hanya memperkaya teks sastra, tetapi juga membantu kita menyampaikan pesan dengan lebih kuat dan menarik.

About the Author: Sebastian Fine